Materi Motivasi : Ayah Bijak & Anak Pemarah

Materi Motivasi : Ayah Bijak & Anak Pemarah

Berikut adalah materi motivasi yangs ering disampaikan trainer Inspiera.

Pernah ada seorang anak lelaki dengan watak yang buruk. Ia suka bertengkar, pemarah, emosional, tidak bisa dinasehati. Segala nasehat dimentahkan oleh sikap buruk dan merasa menang sendiri. Orang-orang di sekitarnya mulai putus asa dan menganggapnya anak yang tak mungkin bisa berubah, namun tidak demikian dengan Ayahnya.

Ayahnya memiliki ide brilian dan kemudian memberi anak kecil itu sekantung penuh paku. Ia menyuruh anaknya memaku satu batang paku setiap anaknya kehilangan kendali atas kesabaranya atau saat meyakiti hati orang lain.

Pada hari pertama anak ini memaku 37 batang paku di pagar pekarangan rumahnya. Pada minggu-minggu berikutnya jumlah paku yang dipakainya dari hari ke hari. Akhirnya suatu hari anak ini berkata pada ayahnya bahwa ia sudah tidak lagi memaku satu batang pakupun dalan satu hari. Ia merasa lebih mudah menahan diri daripada harus memaku paku di pagar pekarangan rumahnya.

Mendengar penuturan anaknya sang ayah berkata ”Kalau begitu mulai besok setiap kamu bisa menahan diri, memaafkan dan membahagiakan orang lain kamu bisa mencabut paku-paku yang telah kamu tancapkan”.

Hari demi hari si anak terus berupaya melakukan kebaikan agar ia bisa mencabut paku-paku yang telah ia tancapkan sampai suatu hari semua paku telah tercabut dan ia berkata lagi kepada ayahnya, ”Ayah, paku semua sudah tercabut ayah, aku sudah bisa menahan diri ayah”.

Sang ayah tersenyum, ia kemudian mengajak sang anak ke pagar pekarangan rumahnya. Sang ayah kemudian berkata, ”Nak, lihatlah, apakah semua paku sudah tercabut”.

Sang anak menimpali, ”Sudah ayah, ayah bisa lihat sendiri”.

Kemudian sang ayah berkata lagi, ”Sekarang kamu lihat pagar ini apakah bekas-bekas paku yang kau tancapkan masih berbekas, bisakah kamu menghilangkan bekasnya ?.

Si Anak menggeleng, Tidak bisa ayah”.

”Itulah akibat ketika engkau tidak bisa menahan diri dan melukai orang lain. Ketika kau melukai hati seseorang ibarat sedang menorehkan sebuah luka yang pasti berbekas. Maka hati-hatilah, jangan kau lukai orang lain. Apa lagi yang lukai adalah hati orang-orang yang berjasa padamu, ibu, ayah, dan tentu guru-gurumu.”

Leave a Comment