Thanks to Problem...
Berterimakasihlah pada Masalah!

Berterima kasih lah kepada masalah. Agak aneh?.

Ada yang tidak biasa?

Terdengarnya aneh. Tapi justru keanehannya lah yang menjadi dahsyat. Saat kebanyakan orang mengeluh, putus asa, alergi dengan masalah. Justru kebiasaan yang disarankan sebaliknya. Berterimakasihlah kepada masalah.

Sekali lagi berterimakasihlah kepada masalah. Sebelum berlanjut ke paragraf selanjutnya. Coba otak-atik lagi kebiasaan pertama ini. Saya kasih waktu 3 menit mulai sekarang …………………………………………………………………………………………………………………………………..….

2 menit lagi…………..……………………………………………………………..

1 menit lagi ………………..……………………..

5,4,3,2,1… waktu habis.

Kira-kira masuk akal jika disarankan untuk berterimakasih kepada masalah?. Jawabannya pasti masuk akal sekali.

Tidakkah saat masalah datang ,kita terpacu mencari resourches yang diperlukan untuk menyelesaiannya. Bisa jadi dengan belajar ilmu baru, bertanya kepada yang lebih ahli, berpikir lebih keras hingga memohon kepada Allah dengan amat sangat sungguh-sungguh sekali agar diberi jalan keluar .

Pada saat proses mencari resources itulah terjadi peningkatan kapasitas diri baik secara knowledge maupun skills. Itulah hebatnya masalah. Mampu menjadi penggerak bagi seseorang untuk menambah wawasan dan skills. Saat wawasan dan skills semakin meningkat maka kemungkinan mendapatkan kesuksesan hanya masalah waktu. Esok atau lusa.

Keinginan mendapatkan kemudahan jangan sampai melupakan bahwa kita butuh menjadi kuat. Dan tiada kekuatan kecuali ditempa dengan kesulitan dan kesulitan. Di dalam lirik lagunya Kelly Clarkson mengatakan,”What Doesn’t Kill You Make You Stronger.” . apapun yang tidak mematikanmu membuatmu lebih kuat.

Karang tak kan kuat tanpa Terpaan gelombang

Nahkoda hebat tidak dilahirkan dari laut yang tenang

Bintang tak kan bersinar tanpa kegelapan malam

Kata Orang Inggris,” I asked for strength and God give me difficulties to make me strong.” Saya meminta kekuatan dan Tuhan memberikanku kesulitan untuk membuatku kuat.

Jika ada kehidupan seseorang tanpa ada masalah memungkinkan seseorang akan lebih sombong. Sudah diberi masalah saja masih sombong apalagi tidak diuji. Kemungkinan lainnya lebih malas untuk sujud kepada Allah, merasa tidak butuh dengan pertolonganNYA.

Jika hujan adalah Kemudahan maka terik matahari adalah kesulitan. Dan kita membutuhkan keduanya agar bisa menikmati indahnya pelangi kehidupan. Sepakat?. kita membutuhkan kesulitan sebagaimana membutuhkan kemudahan.

Lantas apakah kita perlu meminta kesulitan agar menjadi kuat?

Tak perlu meminta kesulitan karena tanpa diminta pun kesulitan pasti datang. Seorang anak kelas 6 SD tak perlu berdoa agar ada Ujian Akhir Nasional (UAN). Seorang pengusaha tak perlu berdoa agar dagangannya tak laku, seorang guru tak perlu berdoa supaya mendapatkan siswa yang sulit diatur.

Karena tanpa diminta pun UAN pasti ada. Tanpa diharapkan pun dagangan tak laku pasti pernah harus dilalui. Tanpa diidam-idamkan pun seorang guru pasti menemui siswa-siswa “kreatif” yang perlu dibina dan diarahkan. Sebagaimana kata-kata Erik Weihenmayer-sang penakluk seven summit,” we don’t have to go looking adversity, it tends to find us”.

Kesulitan yang terbesar adalah Ujian para Nabi dan Rasul. Sebagai manusia biasa seperti kita tentu masalahnya juga biasa-biasa saja. Tidak seluarbiasa para Nabi dan Rasul. Tidakkah beban masalah yang diberikan sesuai dengan kemampuan yang diberikan untuk menyelesaikan.

Memang susah meniru ketabahan, kesabaran para Nabi dan Rasul. Tapi susah bukan berarti tidak mungkin. Minimal perlu mencontoh para Sahabat Rasulullah SAW dalam berdoa.

Para Sahabat tidak berdoa agar Allah memudahkan urusannya, mengurangi beban dakwah dari pundak mereka. Justru mereka berdoa agar dikuatkan pundak-pundak mereka dalam mengemban amanah seberat apapun.

Jika kemudahan merupakan sebuah kosakata yang kehadirannya lebih disuka daripada kesulitan. Lantas bagaimana memahami sebuah Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,” sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian…”

Hanya saja tidak dinafikkan bahwa generasi saat ini adalah cerminan generasi yang disuguhi dengan berjuta kemudahan. Sudah ada pesawat yang siap mengantarkan ke penjuru dunia dalam waktu yang relatif singkat. Sudah ada google yang siap memberikan apapun informasi yang dibutuhkan. Sudah ada facebook yang siap menghubungkan dengan siapapun.

Kita ini sudah dimudahkan banget lho…

Dalam kondisi yang didukung oleh kemudahan demi kemudahan, lantas sudahkan mengakumulasi menjadi sebuah prestasi?.

Herannya dalam kondisi yang serba mudah seperti saat ini masih banyak ditemui orang –orang yang mengeluh. Heran dech saya..hehe…Bagi siapapun yang tergabung dalam Asosiasi pengeluh asli Indonesia disingkat Aspal ingat yang satu ini:

Jika ada yang mengeluh karena rumahnya yang jelek. Tidakkah masih ada orang yang tidak punya rumah

Jika ada yang mengeluh karena pekerjaanya yang berat. Tidakkah masih banyak orang yang menganggur sampai saat ini

Jika ada yang mengeluh karena anak-anaknya yang nakal. Tidakkah masih banyak orang yang tidak diberi anak meskipun sudah menikah 10 tahun lamanya.

Jika ada yang mengeluh karena kuliahnya yang sulit. Tidakkah masih banyak pemuda yang ingin kuliah dan akhirnya tidak bisa kuliah hanya karena kendala biaya.

Rasa-rasanya ada banyak orang yang lebih berhak untuk mengeluh, menyerah, meratapi suratan takdir,menangis dan berhenti. Hanya saja mereka lebih memilih untuk berbuat, bergerak, berubah, berkarya, berkonstribusi dan berupaya memberikan yang terbaik

Pada akhirnya kebiasaan mengucapkan terima kasih kepada masalah akan melahirkan pribadi yang berjiwa besar, berlapang dada atas apapun masalah yang datang. Tak merasa besarnya masalah melebihi besarnya hati dan pikiran untuk menyelesaikannya. Sudah tidak lagi mengeluh,” Ya Tuhan saya punya masalah yang besar tetapi mengatakan,” wahai masalah saya punya Tuhan Yang Maha Besar”.