Training & Development Manager sering menerima permintaan yang sama setiap tahun: “adakan training leadership”. Masalahnya, permintaan itu terlalu umum. Tanpa memperjelas jenis dan sasarannya, anggaran pelatihan habis untuk program yang tidak menjawab kebutuhan siapa pun.
Artikel ini memetakan jenis-jenis training leadership yang paling umum dipakai perusahaan, beserta kapan sebaiknya dipakai.
Kenapa Jenis Pelatihan Perlu Dibedakan
Supervisor baru dan direktur tidak butuh pelatihan yang sama. Supervisor butuh cara memberi instruksi dan menegur staf. Direktur butuh cara mengambil keputusan strategis dan membangun budaya organisasi.
Ketika keduanya dimasukkan ke kelas yang sama, hasilnya bisa ditebak. Supervisor merasa materinya terlalu jauh dari pekerjaan harian, sementara direktur merasa materinya terlalu dasar.
Membedakan jenis pelatihan berdasarkan level dan tujuan adalah langkah pertama yang paling menentukan.
Enam Jenis Training Leadership yang Paling Umum
1. Training Kepemimpinan Dasar untuk Supervisor
Sasaran: team leader, supervisor, dan kepala seksi yang baru naik jabatan.
Fokusnya pada keterampilan mengarahkan pekerjaan harian. Materinya mencakup pemberian instruksi yang jelas, pembagian tugas, pengawasan sederhana, dan cara memberi umpan balik tanpa memicu konflik.
Durasi umumnya dua sampai tiga hari. Ini jenis yang paling sering dibutuhkan dan paling cepat terasa dampaknya.
2. Training Kepemimpinan Manajerial
Sasaran: manajer dan kepala divisi yang mengelola tim beserta anggaran.
Isinya lebih strategis: menerjemahkan target perusahaan menjadi rencana tim, mengelola kinerja, memimpin rapat, dan mengambil keputusan dengan data terbatas.
Biasanya digabung dengan proyek terapan yang dijalankan selama dua sampai tiga bulan.
3. Training Kepemimpinan Transformasional
Sasaran: pimpinan tingkat menengah ke atas yang menghadapi tim dengan keterlibatan rendah.
Fokusnya mengubah cara anggota tim memandang pekerjaannya, bukan sekadar memberi imbalan dan sanksi. Materinya mencakup penyusunan narasi tujuan, pemberdayaan, stimulasi intelektual, dan perhatian individual.
Jenis ini menuntut pendampingan lebih panjang. Tanpa coaching setelah pelatihan, efeknya cepat mengendur.
4. Training Kepemimpinan Strategis untuk Eksekutif
Sasaran: direktur, general manager, dan C-level.
Formatnya lebih banyak diskusi daripada ceramah. Biasanya berupa forum eksekutif dengan peserta terbatas, studi kasus kebijakan, dan coaching individual.
Materinya mencakup pengambilan keputusan di tengah ketidakpastian, manajemen perubahan, dan penyelarasan budaya organisasi.
5. Training Kepemimpinan Situasional
Sasaran: manajer yang memimpin tim dengan tingkat kematangan berbeda-beda.
Isinya melatih peserta menyesuaikan gaya kepemimpinan: kapan mengarahkan, kapan membimbing, kapan mendukung, dan kapan mendelegasikan.
Jenis ini sangat berguna untuk perusahaan dengan banyak karyawan baru bercampur karyawan senior.
6. Training Kepemimpinan Kolaboratif dan Lintas Fungsi
Sasaran: pimpinan proyek dan manajer yang bekerja lintas departemen.
Fokusnya pada kemampuan membangun kesepakatan, mengelola konflik antar-unit, dan memimpin tanpa kewenangan formal.
Banyak perusahaan memilih jenis ini ketika sedang menjalankan transformasi organisasi.
Tabel Perbandingan Singkat
| Jenis | Sasaran | Durasi Umum | Penekanan | |—|—|—|—| | Dasar | Supervisor, team leader | 2-3 hari | Instruksi dan pengawasan harian | | Manajerial | Manajer, kepala divisi | 3-4 hari + proyek | Kinerja dan perencanaan tim | | Transformasional | Pimpinan menengah-atas | 2-3 hari + coaching | Perubahan perilaku tim | | Strategis | Direktur, GM, C-level | Forum + coaching | Keputusan dan budaya | | Situasional | Manajer beragam tim | 2 hari | Penyesuaian gaya memimpin | | Kolaboratif | Pimpinan proyek | 2-3 hari | Kerja lintas fungsi |
Cara Memilih yang Tepat
Mulailah dari tiga pertanyaan sederhana.
Siapa pesertanya? Tentukan level jabatan dan pengalaman mereka. Ini menentukan kedalaman materi.
Apa masalah nyata yang ingin diselesaikan? Kalau masalahnya anggota tim pasif, arahnya ke transformasional. Kalau masalahnya keputusan lambat, arahnya ke manajerial atau strategis.
Apa yang bisa dieksekusi setelah pelatihan? Pilih jenis yang menyisakan ruang praktik, bukan hanya pemaparan materi.
Jawaban atas tiga pertanyaan ini biasanya sudah cukup mempersempit pilihan menjadi satu atau dua jenis.
Kesalahan yang Sering Terjadi di Perencanaan
Beberapa kesalahan berulang yang kami temui saat mendampingi perusahaan.
Memilih jenis pelatihan karena tren, bukan karena kebutuhan. Model baru memang menarik, tetapi belum tentu cocok dengan masalah yang dihadapi.
Menggabungkan semua level dalam satu kelas demi efisiensi anggaran. Hasilnya biasanya tidak memuaskan semua pihak.
Tidak menyiapkan pengukuran. Tanpa asesmen awal dan evaluasi lanjutan, sulit membuktikan bahwa pelatihan itu berhasil.
Melewatkan pendampingan. Padahal bagian ini yang membuat materi bertahan lebih dari dua minggu.
Kesimpulan
Jenis training leadership bukan sekadar pilihan tema, tetapi keputusan strategis tentang siapa yang dilatih dan untuk masalah apa. Mulailah dari pemetaan level peserta dan masalah nyata di lapangan, pilih jenis yang paling dekat dengan kebutuhan itu, lalu pastikan ada praktik dan pengukuran setelah pelatihan. Dengan begitu, setiap rupiah anggaran pelatihan bisa dipertanggungjawabkan.
Butuh Bantuan Memilih Jenis Pelatihan yang Tepat?
Nexora Training telah mendampingi lebih dari 219 klien sejak 2004, mulai dari kementerian, pemerintah provinsi, BUMN, TNI/Polri, perguruan tinggi negeri, hingga perusahaan swasta.
Yang kami sediakan untuk kebutuhan Training & Development Anda:
- Konsultasi pemetaan kebutuhan berdasarkan level dan masalah nyata
- Silabus yang disusun khusus, bukan paket siap saji
- Fasilitator praktisi dengan pengalaman eksekutif
- Proyek terapan dan pendampingan setelah pelatihan
- Laporan evaluasi dampak, termasuk pre-test dan post-test
- Pengelolaan acara menyeluruh, termasuk fasilitas dan dokumentasi




